• Jelajahi

    Copyright © Orbit News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     


    Iklan

    Halaman

    Kanker Payudara Mulai Mengintai Usia Muda, Penyintas 22 Tahun Jadi Sorotan

    Sabtu, 19 September 2026, September 19, 2026 WIB Last Updated 2026-09-19T03:40:32Z
    masukkan script iklan disini



    JAKARTA, Orbitnews.info -

    Selama ini, penyakit kanker payudara selalu diidentikkan dengan perempuan yang sudah berusia lanjut atau setidaknya telah memasuki masa menopause. Namun, seiring berjalannya waktu, tren kesehatan secara global maupun lokal menunjukkan adanya pergeseran rentang usia pasien ke arah demografi yang jauh lebih muda. 


    Ancaman kesehatan ini secara nyata mulai mengintai kelompok usia dewasa muda, bahkan mereka yang baru saja menginjak usia awal dua puluhan. Kasus ini ditemukan secara langsung oleh Lovepink Indonesia. Mereka baru saja menerima kedatangan penyintas dari kalangan Generasi Z. 


    "Dua bulan yang lalu, kita menerima anggota Lovepink berusia 22 tahun," ungkap Wakil Ketua Yayasan Daya Dara Indonesia, Anita Sulistyowati, dalam konferensi pers penandatanganan kerja sama antara Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Lovepink Indonesia di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026). "Dia belum menikah, kemudian dia masih bekerja, tapi karena dia harus melakukan treatment yang padat, dia untuk sementara tidak bekerja dulu," imbuhnya.


    Melihat fenomena usia pasien yang semakin muda, kesadaran akan kondisi tubuh wajib dibangun sedini mungkin agar penanganan medis tidak terlambat. Langkah pencegahan paling awal dan sederhana yang bisa langsung diaplikasikan di rumah adalah rutinitas Periksa Payudara Sendiri (SADARI). 


    Meski terdengar praktis, pemeriksaan mandiri ini memiliki panduan waktu khusus yang harus ditepati agar hasilnya akurat, terutama bagi perempuan yang masih berada dalam siklus reproduksi aktif. "SADARI untuk para wanita itu lakukan sebulan sekali. Di hari ketujuh sampai hari kesepuluh dari menstruasi hari pertama," kata Anita. "Jadi, seandainya kita menstruasi hari pertamanya tanggal 1, itu di antara tanggal 7 dan tanggal 10 kita bisa melakukan SADARI," tambah dia. 


    Langkah pemeriksaan ini tidak hanya dikhususkan bagi perempuan yang masih rutin mengalami datang bulan, melainkan juga berlaku bagi mereka yang sudah tidak lagi. Untuk kelompok ini, pemeriksaan tetap perlu dirutinkan dengan metode pengingat yang sedikit disesuaikan dengan keseharian.


    "Untuk wanita yang sudah menopause, kita tetap lakukan satu bulan sekali. Karena tidak menstruasi, pilih satu tanggal yang selalu kita ingat, seperti misalnya tanggal ulang tahun atau tanggal gajian," ucap Anita. 


    Selain menyasar berbagai jenjang usia perempuan, langkah perabaan ini juga dianjurkan bagi para pria. Pasalnya, ada kasus nyata seorang pria di Surabaya yang Anita ketahui. Pria tersebut harus menjalani tindakan pembedahan pengangkatan payudara secara total beserta kemoterapi akibat mengabaikan kelainan tak wajar di tubuhnya hingga berakhir pada fase stadium lanjut.


    Genetik, pola hidup, dan penanganan medis presisi Terkait munculnya bibit penyakit berbahaya ini di usia muda, para pakar kesehatan menyoroti adanya persilangan pemicu antara riwayat keturunan dan kebiasaan sehari-hari. 


    Meskipun seseorang membawa gen risiko pembawa kanker dari keluarganya, paparan lingkungan dan gaya hidup memegang peranan vital dalam memicu sel tersebut menjadi aktif. "Kita harus tahu bedakan dua faktor. 


    Pertama faktor genetik yang tidak bisa diubah. Yang lainnya faktor lingkungan atau faktor yang dia perbuat, misalnya pola hidup, merokok atau enggak merokok," papar Direktur Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Fiktorius Kuludong, MM. Apabila benjolan terdeteksi pada tahapan paling awal, dunia kedokteran saat ini telah menyediakan berbagai prosedur penyelamatan medis yang jauh lebih ramah bagi pasien.


    Pilihan terapinya tidak lagi konvensional seperti masa lalu yang selalu bermuara pada pengangkatan anatomi payudara secara drastis. Pendekatan penanganan tumor ganas telah berkembang pesat, sehingga pelestarian bentuk fisik pasien amat diprioritaskan ketimbang langsung melakukan tindakan pembedahan radikal di meja operasi.


    "Dengan perkembangan ilmu terbaru dan teknik bedah terbaru, kami lebih sering melakukan terapi sistemik dahulu sebelum pembedahan," jelas Spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Martha Iskandar, Sp.PD, KHOM, FINASIM. "Sehingga, sebagian besar pasien dapat mempertahankan payudaranya, juga menghindari pembedahan kelenjar di ketiak secara luas," imbuh dr. Martha. 


    Selain terapi pengobatan sistemik, remaja atau pasien usia produktif yang terdiagnosis kanker juga akan langsung ditangani secara terpadu melalui diskusi multidisiplin. Evaluasi komprehensif ini bertujuan merancang rute penyembuhan paling optimal tanpa merampas masa depan maupun produktivitas hidup sang pasien.


    Sumber: Kompas.com


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini