LAMPUNG TIMUR, Orbitnews.info -
Kondisi bagian dalam Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, disebut semakin memprihatinkan setelah sejumlah kawasan kehilangan pepohonan besar dan berubah menjadi semak belukar serta rawa.
Kondisi itu diungkap Heri Suseno, warga desa penyangga TNWK yang kerap masuk ke kawasan hutan untuk mencari ikan. Menurut Heri, tutupan hutan yang sebelumnya lebat kini berkurang drastis di sejumlah titik. "Saya sering keluar masuk hutan untuk mencari ikan.
Ternyata di tengah hutan itu kondisinya lebih lapang ketimbang kebun di belakang rumah saya. Pohonnya bisa dihitung dengan jari karena mayoritas sudah menjadi semak belukar dan rawa-rawa," ungkap Heri, Senin (7/9/2026).
Ia menduga perubahan kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang serta aktivitas perambahan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Jalur masuk liar disorot
Selain kondisi vegetasi, Heri menyoroti keberadaan sejumlah jalur tidak resmi atau jalur "tikus" yang dapat digunakan untuk keluar masuk kawasan. Menurut dia, akses tersebut perlu mendapatkan pengawasan lebih ketat agar aktivitas perambahan maupun pembakaran hutan dapat dicegah.
Heri juga menyambut baik rencana pendirian pos pemantauan di desa-desa yang berbatasan langsung dengan TNWK. Langkah itu dinilai dapat membantu mempersempit akses bagi pihak yang masuk kawasan tanpa izin. Pengawasan juga dianggap penting karena desa-desa penyangga menjadi titik terdekat antara aktivitas masyarakat dan kawasan konservasi.
Karhutla berulang jadi ancaman Kerusakan vegetasi TNWK turut mendapat perhatian Satgas Karhutla Mabes TNI Khusus Lampung Timur. Ketua Satgas Karhutla Mabes TNI Khusus Lampung Timur Brigjen TNI Tommy Arief Susanto mengatakan, kebakaran hutan dan lahan yang berulang dalam sekitar satu dekade terakhir telah memberikan dampak serius terhadap kawasan.
"Dampak kerusakan vegetasi kini semakin terasa melalui ketidakpastian pola musim dan cuaca ekstrem. Ini teguran bagi kita manusia untuk lebih mensyukuri dan menjaga kelestarian alam," kata Tommy. Menurut dia, kondisi kawasan konservasi yang terus mengalami tekanan membutuhkan penanganan bersama. Selain dampak ekologis, karhutla yang terjadi berulang juga dinilai berpotensi mencoreng upaya perlindungan kawasan konservasi.
Reboisasi disiapkan
Sebagai salah satu langkah pemulihan, TNI bersama pengelola TNWK berencana melakukan reboisasi secara luas. Penanaman akan difokuskan menggunakan jenis tanaman keras lokal untuk memulihkan area yang tutupan vegetasinya telah berkurang.
Reboisasi diharapkan dapat membantu mengembalikan fungsi ekologis kawasan yang mengalami degradasi. Selain penanaman kembali, patroli gabungan juga akan ditingkatkan untuk mencegah kebakaran dan perambahan. Edukasi kepada masyarakat mengenai pembukaan lahan tanpa membakar juga akan terus dilakukan, terutama di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNWK.
"Rangkaian upaya ini bermuara pada penguatan sinergi komunitas. Kolaborasi aktif antara warga desa penyangga, jajaran TNI, dan pengelola TNWK diandalkan untuk membangun sistem pengawasan batas wilayah yang berkelanjutan," pungkasnya.
Pengawasan kawasan diperketat
Satgas Karhutla bersama pengelola TNWK juga menyiapkan penguatan pengawasan di sepanjang batas kawasan. Jalur-jalur tidak resmi yang berpotensi digunakan untuk memasuki hutan menjadi salah satu titik yang akan diperhatikan. Pengawasan tersebut diharapkan mampu mencegah aktivitas yang berpotensi memperparah kerusakan hutan.
Peran masyarakat desa penyangga juga dinilai penting karena mereka berada paling dekat dengan kawasan dan dapat menjadi bagian dari sistem pengawasan. Kolaborasi antara masyarakat, TNI, dan pengelola TNWK diharapkan dapat menekan risiko karhutla sekaligus mencegah perambahan lebih lanjut.
Pemulihan kawasan juga akan dilakukan secara bertahap melalui penanaman kembali vegetasi lokal di area yang telah terbuka. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi TNWK sebagai kawasan konservasi sekaligus memulihkan tutupan hutan yang mengalami degradasi.
Sumber: Kompas.com
