Medan, Orbitnews.info -
Kasus tewasnya seorang siswa Daffa Al Bukhari (17) akibat luka tembak saat terjadi tawuran di kawasan Jalan Tol dekat PT Agro Raya, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, hingga kini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (18/7/2026) dini hari itu menjadi sorotan karena melibatkan remaja dan berujung pada korban jiwa. Aparat kepolisian mengakui masih menghadapi sejumlah kendala dalam mengungkap pelaku utama penembakan.
Apa kendala polisi dalam mengungkap pelaku?
Kanit Reskrim Polsek Medan Labuhan, Hamzar Nodi, menyampaikan bahwa hingga saat ini pelaku penembakan belum berhasil ditangkap. "Masih belum tertangkap para pelakunya," ucap Hamzar saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa salah satu kendala utama dalam proses penyelidikan adalah minimnya keterangan dari pihak keluarga korban. Kondisi tersebut membuat proses pengumpulan informasi menjadi tidak optimal.
"Enggak mau dia (ibu korban) datang buat laporan ke Polsek Medan Labuhan, padahal anggota sudah datang ke rumahnya untuk membuat laporan malah dimarahin. Sehingga penyelidikan pun jadi terhambat," ungkapnya. Diketahui, ibu korban memilih melaporkan kasus tersebut ke Polda Sumatera Utara dibandingkan ke Polsek setempat.
Mengapa peran masyarakat menjadi sorotan?
Selain kendala dari pihak keluarga, kepolisian juga menyoroti minimnya partisipasi masyarakat dalam membantu pengungkapan kasus. Bahkan, terdapat indikasi bahwa sebagian warga justru melindungi pelaku tawuran.
"Itu kan anak-anak muda. Kita ke sana udah bubar. Gak bisa tangkap malah dilindungi lagi," keluh Hamzar. Situasi ini dinilai menyulitkan aparat dalam melakukan penindakan, terutama karena pelaku sering melarikan diri dan mendapatkan perlindungan dari lingkungan sekitarnya.
Hamzar menegaskan bahwa penanganan kasus tawuran tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. "Jadi tawuran itu tidak bisa diatasi oleh penegak hukum karena jumlah dan kuantitas. Sehingga harus ada peran masyarakat dan pemerintah setempat," tegasnya.
Bagaimana peran orang tua dalam mencegah tawuran?
Dalam kasus ini, aparat juga menyoroti pentingnya pengawasan dari orang tua terhadap aktivitas anak, khususnya pada malam hari. Hamzar mengungkapkan masih banyak orang tua yang membiarkan anak-anaknya keluar malam tanpa pengawasan, bahkan mengetahui anaknya membawa senjata tajam namun tidak memberikan teguran. "Dia (orang tua) tahu anaknya bawa parang, pulang pun enggak dimarahin," tuturnya.
dimarahin," tuturnya. Baca juga: Polisi Cari Titik Kebocoran Gas Rumah Mewah di Medan, Penting Dipastikan yang Bertanggungjawab Menurutnya, lemahnya kontrol orang tua menjadi salah satu faktor yang memperbesar potensi keterlibatan remaja dalam aksi tawuran.
Selain itu, pengaruh konten kekerasan di media sosial dan tayangan tertentu juga dinilai turut memicu perilaku agresif di kalangan remaja.
Apa yang terjadi saat peristiwa tawuran?
Pada saat kejadian, seorang warga berinisial JS berusaha membubarkan aksi tawuran antar kelompok pemuda tersebut. Namun, upaya tersebut justru membuatnya ikut menjadi korban.
"Ada warga yang membubarkan aksi tawuran tetapi juga mengalami luka ringan saja," jelas Hamzar. Meski demikian, JS tidak dapat memberikan informasi detail terkait identitas para pelaku.
"Pas kami minta keterangan dia, engga tahu para pelaku tawuran itu dari warga mana," pungkasnya.
Sumber: Detik.com
