• Jelajahi

    Copyright © Orbit News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     


    Iklan

    Halaman

    Tragedi Penikaman Anggota Brimob di Labuan Bajo, Versi TNI dan Polisi Berbeda

    Minggu, 14 Juni 2026, Juni 14, 2026 WIB Last Updated 2026-06-14T04:43:26Z
    masukkan script iklan disini



    Manggarai Barat, Orbitnews.info -

    Kronologi tragedi penikaman anggota Brimob yang diduga dilakukan oleh prajurit TNI AD di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) berbeda versi dari Kodam IX/Udayana dan Polda NTT.


    Kronologi tersebut disampaikan kedua institusi berdasarkan hasil pemeriksaan awal masing-masing.

    Diketahui, insiden yang terjadi pada Kamis (11/6/2026) dini hari itu mengakibatkan tiga anggota Brimob mengalami luka tusuk dan dua lainnya lecet. 



    Mereka telah menjalani perawatan di RS Siloam. Adapun para korban berinisial Bripda RME, Bripda FIA, Bharada BBK, Bripda RDJ, dan Bharada GNL.



    "Ditikam orang tak dikenal. Korban ada tiga yang luka, dua orang lecet. Kondisinya lumayan serius," kata Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) B Pelopor Satuan Brimob Polda NTT, AKP Antonio Cortareal, Kamis, dilansir dari Kompas.com. 



    Kronologi Menurut Kodam IX/Udayana



    Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution menjelaskan, peristiwa bermula saat ketiga anggota TNI AD berinisial Pratu IB, Pratu IW, dan Pratu FR menghadiri acara syukuran pelantikan anggota Brimob Bripda JG pada Rabu (10/6/2026). 



    Adapun lokasi acara disebut berada di dekat rumah orang tua Pratu IW. Ketiga anggota TNI tersebut pun datang sebagai tamu undangan dan diterima dengan baik oleh tuan rumah.




    Kemudian, dalam suasana acara yang berlangsung secara kekeluargaan, Pratu IB sempat berinteraksi dengan salah seorang anggota Brimob.



    Namun, beberapa saat kemudian terdengar instruksi agar seluruh anggota Brimob meninggalkan lokasi acara. Setelah sekitar 30 menit, lebih dari 15 anggota Brimob kembali memasuki lokasi.



    "Setiba di lokasi, sejumlah anggota Brimob diduga langsung menarik Pratu IB ke arah jalan raya sejauh kurang lebih 40 meter sebelum kemudian terjadi tindakan pemukulan dan pengeroyokan," ujar Amrizal Nasution, Sabtu (13/6/2026), dilansir dari PosKupang. 



    Mendapati kondisi Pratu IB, Pratu IW berupaya memberikan pertolongan. Namun, ia juga menjadi sasaran pemukulan dan pengeroyokan.



    Akan tetapi, saat dikeroyok, Pratu IW berhasil mencari celah untuk kabur dan langsung berlari menuju rumah orang tuanya untuk mengambil sebuah pisau kerambit. 



    Berdasarkan keterangan para saksi, mereka mengaku melihat secara langsung adanya tindakan pengeroyokan oleh anggota Brimob yang berjumlah sekitar 15 orang terhadap kedua anggota Kodim tersebut.




    Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi juga disebut telah berupaya melerai dan meminta agar tindakan pengeroyokan dihentikan.



    Namun, pengeroyokan tetap berlangsung, termasuk saat salah satu korban anggota TNI tersebut berada dalam posisi terjatuh dan berusaha melindungi kepalanya dari pukulan.


     

    Amrizal Nasution menyebut bahwa Pratu IW mengakui telah melakukan penikaman terhadap anggota Brimob yang terlibat dalam insiden tersebut. "Pratu I.W. mengakui melakukan penikaman.



    Namun berdasarkan keterangannya, tindakan tersebut dilakukan saat dirinya merasa terdesak, mengalami kekerasan fisik, dan menilai keselamatan dirinya berada dalam ancaman akibat pengeroyokan yang sedang berlangsung," jelas Kapendam.




    Sejumlah saksi juga menerangkan bahwa setelah terdengar teriakan adanya korban yang terkena tusukan, situasi mulai mereda. Korban yang mengalami luka kemudian segera dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. 



    Kolonel Inf Amrizal Nasution menegaskan bahwa seluruh fakta yang diperoleh ini masih merupakan hasil pemeriksaan awal.



    Oleh karena itu, proses pendalaman terus dilakukan guna memperoleh gambaran yang utuh mengenai kronologi, motif, serta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. 



    Penjelasan Brimob Polda NTT



    Di sisi lain, Wadanyon B Pelopor Sat Brimob Polda NTT, AKP Antonio Cortareal menjelaskan, insiden tersebut berawal ketika sejumlah personel Brimob mengikuti acara Misa syukuran pelantikan Anggota Brimob Bripda JGR yang berlokasi di Dusun Waemata, Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Rabu (10/6/2026) malam.




    Awalnya acara berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh suasana kekeluargaan. 



    "Pada pukul 20.30 Wita, misa syukur selesai dan dilanjutkan dengan acara bebas," ujarnya, Kamis, dilansir dari TribunFlores.



    Kemudian, saat anggota Brimob hendak pulang pada Kamis (11/6/2026) sekira pukul 01.00 Wita, berpapasan dengan salah satu terduga pelaku berjumlah tiga orang. 



    Baca juga: Kronologi Oknum Polisi Tuban Tampar Badut, Berawal dari Senggolan di Jalan "Salah seorang terduga pelaku langsung menendang salah satu anggota Brimob atas nama Bripda R," katanya. Lanjut Wadanyon Antonio, melihat Bripda R ditendang, empat rekan lainnya pun hendak melerai pertikaian.



    Namun, pertikaian tidak lagi terhindarkan, hingga salah terduga pelaku lainnya langsung menikam anggota Brimob.



    "Setelah tikam, ketiga terduga pelaku langsung melarikan diri. Sedangkan anggota Brimob kami langsung larikan ke RS Siloam," tukasnya.



    Kodam Udayana dan Polda NTT Koordinasi Intensif



    Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko bersama Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto dan Danrem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Hendro Cahyono melakukan koordinasi intensif untuk memastikan situasi tetap aman usai peristiwa penikaman terhadap tiga anggota Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda NTT di Labuan Bajo.



    Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra mengatakan, insiden tersebut tidak akan mengganggu hubungan baik dan sinergitas yang selama ini telah terbangun kokoh antara TNI dan Polri di NTT.


     

    "Kapolda NTT dan Pangdan IX/ Udayana, serta Danrem memiliki komitmen yang sama bahwa kejadian ini merupakan kesalahpahaman yang bersifat spontan. Kami terus berkoordinasi secara intensif untuk menyelesaikan persoalan ini secara bijaksana dan profesional," ujar Henry, Kamis, dilansir dari Kompas.com.




    Henry melanjutkan, fokus utama adalah memastikan seluruh personel yang mengalami luka mendapatkan penanganan medis terbaik. Sehingga, seluruh korban diharapkan bisa pulih sepenuhnya.

    Selain itu, dia mengatakan, sebagai bentuk keseriusan dalam penanganan peristiwa tersebut, kedua pimpinan TNI-Polri di NTT sepakat mengedepankan pendekatan profesional, objektif, dan penuh kebijaksanaan. 



    Menurut Henry, kedua institusi telah menurunkan tim gabungan dari Bidang Propam Polda NTT dan Polisi Militer Angkatan Darat (POM AD). 



    "Ini untuk melakukan pemeriksaan dan pendalaman fakta di lapangan. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh proses berjalan transparan, profesional, dan berdasarkan fakta yang sebenarnya," katanya.

    Sementara itu, Kolonel Inf Amrizal Nasution turut mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh kedua institusi dalam menjaga situasi tetap kondusif.




    Komunikasi dan koordinasi antara jajaran TNI dan Polri di wilayah Manggarai Barat tetap berjalan dengan baik guna mencegah berkembangnya kesalahpahaman yang dapat mengganggu soliditas kedua institusi.



    "Kami memastikan hubungan sinergitas TNI dan Polri tetap terjaga dengan baik. Peristiwa ini merupakan kasus individual yang sedang ditangani sesuai mekanisme hukum yang berlaku dan tidak dapat digeneralisasi sebagai konflik antar institusi," tukas Kapendam IX/Udayana, Sabtu.























    Komentar

    Tampilkan

    Terkini