• Jelajahi

    Copyright © Orbit News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     


    Iklan

    Halaman

    Krisis Air Berulang di Sumenep, 5 Titik Bor Gagal Temukan Sumber hingga 120 Meter

    Kamis, 24 September 2026, September 24, 2026 WIB Last Updated 2026-09-24T03:11:52Z
    masukkan script iklan disini



    SUMENEP,  Orbitnews.info -

    Warga dan Pemerintah Desa (Pemdes) Cangkramaan, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kewalahan menghadapi kekeringan yang berulang setiap tahun. Upaya Pemdes mencari sumber air dengan mengebor sejumlah titik belum membuahkan hasil. 


    Kepala Desa Cangkramaan, Abdus Salam mengatakan, masalah krisis air telah berkali-kali disampaikan kepada pemerintah daerah (Pemda). Ia bahkan mengaku telah menyampaikan masalah tersebut ke Pemkab Sumenep sebelum Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo. 


    “Saya sampaikan sudah Pak, berkali-kali, sebelum bupati (Achmad Fauzi Wongsojudo) calon, pernah dulu saya dikumpulkan. Saya sampaikan ke Pak Abrari yang mau nyalon, kalau jadi Pak tolong Cangkramaan ini setiap tahun kekeringan air,” kata Abdus Salam kepada Kompas.com di Sumenep, Kamis (24/9/2026).


    Menurut Salam, desa membutuhkan bantuan peralatan pengeboran berkapasitas besar untuk menemukan sumber air bawah tanah yang dapat dimanfaatkan warga.


    “Saya minta bantuan bor besar, P2HT, ada bupati di situ. Itu,” tambahnya. Upaya mencari dukungan juga dilakukan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Abdus Salam mengaku pernah bertemu Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya dan menyampaikan kebutuhan pipanisasi untuk mengalirkan air ke permukiman. 


    “Pernah saya ketemu dengan Bu Khafifah di Surabaya. Bisa membantu pipanisasi kalau ada sumber, tapi harus kabupaten yang proposal katanya,” jelasnya.


    Sumber air di kedalaman 175 meter Karena belum memiliki sumber air yang memadai, Pemdes berinisiatif membeli mesin bor sendiri. Pembelian alat tersebut menelan biaya sekitar Rp 70 juta. “Makanya saya itu Pak, beli bor, itu beli di Bandung. Hampir berapa, sekitar Rp 70 juta.


     Jadi saya kalau punya bor, saya cuman membiayai bahan bakar dan pekerja,” ungkapnya. Mesin tersebut kemudian digunakan untuk mengebor lima titik di wilayah desa. Namun, seluruh pengeboran belum menemukan sumber air hingga kedalaman 120 meter.


    “Saya ngebor berapat titik, satu, dua, tiga, empat, ada lima titik yang pernah saya bor. Tapi nihil semuanya di kedalaman 120 meter,” ucap dia.


    Untuk memastikan potensi sumber air, Pemdes kembali mendatangkan tim survei dari Surabaya. Biaya survei tersebut juga ditanggung pemerintah desa. “Pas saya itu ngundang tim survei dari Surabaya, saya bayar Rp 12 juta. Satu titiknya Rp 3 juta, 3 titik saya. Dengan transport-nya saya habis Rp 12 juta,” kata dia.


    Hasil survei menunjukkan adanya potensi air pada kedalaman lebih dari 175 meter. Kedalaman tersebut berada di luar kemampuan peralatan bor yang dimiliki pemerintah desa. “Ya itu sudah, ada air di kedalaman 175 meter ke atas. Ya tidak mampu bor saya,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat desa membutuhkan dukungan pemerintah untuk melanjutkan pengeboran.


    Bantuan tandon air Sementara itu, Camat Kangayan, Nurullah mengatakan, pemerintah kecamatan telah menyampaikan kondisi kekeringan di Cangkramaan dan Batuputih kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep. 


    "Kami sudah bersurat ke Pemkab Sumenep, menyampaikan kondisi di lapangan dan menyampaikan permohonan," ungkap Nurullah. Menurut dia, pemerintah kecamatan mengusulkan bantuan berupa 200 jeriken dan tandon air untuk membantu warga menghadapi kekurangan air bersih.


    "Untuk tandon air, idealnya empat masing-masing desa seperti di Cangkramaan dan Batuputih," ujar Nurullah. Usulan tersebut telah mendapat respons dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).


     Namun, bantuan belum dapat segera dikirim ke Pulau Kangean karena terkendala biaya transportasi. Pemerintah kabupaten kemudian mengusulkan agar pemerintah desa menjemput bantuan tersebut.


    Sumber: Kompas.com

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini